Bandung, belum lama jadi ibukota Jawa barat

Pasti banyak yang belum tahu bahwa Bandung baru menjadi ibukota Jawa barat belum terlalu lama. Pada tahun 1947-lah, kota pegunungan itu ditobatkan sebagai ibu kota Jawa barat yang baru setelah ibu kota Jawa barat yang lama yaitu Jakarta menjadi Sebuah propinsi Daerah khusus ibukota.
Bila meneliti sejarah, justru puSat kekuasaan yang meliputi jawa barat ini terletak di Jabotabek. Yaitu Bekasi (Tarumanegara tahun 400 M - 690 an, Bogor tahun 1400 - 1597an), lalu dari abad 16 hingga abad 20 di Jakarta. Kota lainnya yang pernah jadi pusat kekuasaan Jawa Barat adalah Galuh di Ciamis.

Devide at Impera 2

Area histori pertempuran serta jumlah besar dalam kurun waktu yang panjang perlawanan terhadap para penjajah di bumi Nusantara ini adalah di jawa barat. Sehingga jawa barat begitu menarik para pria pemberani dari seluruh nusantara untuk bergabung bersama-sama membuktikan keterampilan, kepandaian, kekuatan serta keperkasaannya dalam melawan tirani penjajah. Contohnya saja ulama besar Syech Yusuf dari Makassar bertempur di pegunungan Banten hingga Priangan bertahun-tahun.
Demikian juga Hatta dari Sumatera, juga Soekarno yang Selain bekerja dan sekolah di jawa barat juga bersama-sama rakyat jawa barat bahu membahu berupaya melenyapkan pelaku kekejaman kemanusiaan.
Kumpulan orang muda yang intelek, pintar, berani serta didukung rakyat yang sadar akan harga dirinya sangat merepotkan penguasa penjajah waktu itu.
Sekali lagi devide et impera digunakan secara intens, kaum cerdik pandai/menak ('bangsawan', bhs. Ina) dibenturkan dengan rakyat kebanyakan. Para penjajah sangat tahu bahwa perlawanan selalu dipimpin para 'menak' ini, supaya rakyat Jawa barat tidak patuh pada kaum ini skenario pun disusun dengan cermat.
Akan tetapi Soekarno Hatta tidak terjebak, sehingga tetap mendapat dukungan masyarakat Jabar.
Akan tetapi menak lokal berhasil dijauhkan dari rakyat biasa, seperti air dengan minyak yang tersekat diantara keduanya.

Devide at Impera 1

Ketika para penjajah frustasi dan bosan dengan perlawanan rakyat Jawa barat yang gigih dan tak pernah berhenti, maka taktik penyerangan secara kekuatan fisik/militer ditambah dengan politik pecah belah (Devide et impera).
Politik pecah belah (Devide et impera) kalau sekarang mungkin kita kenal sebagai kegiatan pasukan anti teror, psywar, melumpuhkan musuh dari dalam, pembusukan dari dalam, pembunuhan karakter adalah metoda para penjajah tersebut.
Peninggalan politik pecah belah ini 'masih lestari' hingga sekarang. Diantaranya saja : saat seseorang berhasil kaya raya maka tersebarlah isu sebagai hasil 'nyegik' (babi ngepet, bhs. Ina), 'ngipri' (pemuja ular, bhs. Ina), 'Munjung', dll.
Demikian juga saat seseorang berprestasi hingga mendapat posisi serta jabatan, populer hingga jadi artis top selalu berhembus kabar burung sebagai hasil dari 'dudukun' (karena dibantu ilmu hitam).
Oleh karena itu sangat tidak aneh, bila masyarakat pulau Jawa barat bagian barat telah sedikit banyak luntur 'keguyubannya' karena wabah saling curiga diantara mereka.