Bagi masyarakat pulau Jawa bagian barat, Jakarta adalah halaman depan rumahnya tempat mereka bekerja, berlibur dan bertemu saudara. Demikian juga sebagai penduduk terbanyak di negara ini tentu ekspresi kesenian khas adalah wujud eksistensi kebudayaan yang Setiap saat dapat berubah mengikuti perkembangan zaman. Akan tetapi kerinduan seni buhun/seni tua/Seni tradisi lama rupanya belum hilang, termasuk pada seni wayang golek.
Jadi wajar kita bersyukur ada televisi nasional di Jakarta yang tetap dapat menyiarkan siaran wayang golek ini. Setelah TPI maka Indosiar dan TVRI Bandung pun menampilan kesenian kolabirasi seni musik, seni tari, seni suara, seni pedalangan, filSafat dan peSAn pembangunan ini. Karena orang Sunda tentu bukan hanya ada di Jawa barat saja, merekapun tersebar dimana-mana dan Jawa barat memang sekarang tidak identik dengan Sunda apalagi Jakarta karena tingkat heterogenitasnya yang sangat tinggi.
Hanya di tahun 2007 ada perubahan jam tayang, dari biasa jam 11.00 wib diubah menjadi jam 12.00 malam lalu jam 01.00 wib.
Wah ada apa nech......., kurang penontonnya, rendah ratingnya, kurang apresiasi maSyarakat, kurang SponSor... atau ada apa nech?
Wallahu alam bisawab......
Susahnya nonton Wayang golek 2
Akhirnya setelah menunggu puluhan tahun semenjak kemunculan televisi di Indonesia, pagelaran wayang golek secara lengkap tampil di TPI. Mulai dari jam 22.00 wib hingga 05.00 setiap malam minggunya, telah memupus tanda tanya selama ini : kenapa wayang golek tidak ada yang bisa tampil di televisi?
Karena TPI telah mempunyai jaringan secara nasional, maka dimanapun di belahan bumi Indonesia dapat dilihat dan didiskusikan dengan sahabat saudara kita etnis lainnya. Inilah nikmatnya Bhineka Tunggal Ika. Tentu banyak tanya dari mereka tentang orang Jawa yang selama ini hanya mereka samar dengar.
Ada juga yang secara terbuka tidak menyukai tayangan tersebut, bisa jadi karena memang tidak suka kesenian atau juga bisa ketidaksukaan politis he he he .... Konon santer tersebar kabar bahwa lewat seni di televisi ini menunjukkan orang Jawa (maksudnya, orang yang tinggal di pulau Jawa termasuk etnis Sunda) sedang dan telah menjajah mereka!... Astagfirullah.
Untuk itu, saya sangat berharap tampilan seni dari 27 propinsi dapat dipagelarkan secara bergilir di televisi nasional. Seperti yang pernah dilakukan TVRI di tahun 80-an lewat aneka ria safari (kalau tidak salah) yang secara adil memberi kesempatan dari seluruh stand taman mini mewakili propinsinya masing-maSing.
Kita harus akhiri gosip itu...
Karena TPI telah mempunyai jaringan secara nasional, maka dimanapun di belahan bumi Indonesia dapat dilihat dan didiskusikan dengan sahabat saudara kita etnis lainnya. Inilah nikmatnya Bhineka Tunggal Ika. Tentu banyak tanya dari mereka tentang orang Jawa yang selama ini hanya mereka samar dengar.
Ada juga yang secara terbuka tidak menyukai tayangan tersebut, bisa jadi karena memang tidak suka kesenian atau juga bisa ketidaksukaan politis he he he .... Konon santer tersebar kabar bahwa lewat seni di televisi ini menunjukkan orang Jawa (maksudnya, orang yang tinggal di pulau Jawa termasuk etnis Sunda) sedang dan telah menjajah mereka!... Astagfirullah.
Untuk itu, saya sangat berharap tampilan seni dari 27 propinsi dapat dipagelarkan secara bergilir di televisi nasional. Seperti yang pernah dilakukan TVRI di tahun 80-an lewat aneka ria safari (kalau tidak salah) yang secara adil memberi kesempatan dari seluruh stand taman mini mewakili propinsinya masing-maSing.
Kita harus akhiri gosip itu...
Susahnya nonton Wayang golek 1
Tahun 70 hingga 85-an, televisi masih jadi barang mewah. Sehingga untuk menikmati wayang golek para sepuh mengandalkan radio transiStor untuk menangkap RRI lewat gelombang AM.
RRI Bogor dan Bandung biasanya Secara rutin menyiarkan wayang ini pada malam minggu semalam suntuk. KualitaS suara yang jelek disertai krasak-kresek, timbul tenggelam bahkan hampir tidak terdengar tidak jadi masalah. Yang penting saat gending ditalu, Sinden ngahaleuang rasa deudeuh pada tanah air Semakin mendalam.
Disaat pesawat televisi hitam putih terbeli dengan operator tunggal TVRI, harapan nonton wayang golek di layar kaca ternyata harapan tinggal harapan. Kemunculan wayang golek yang tidak jelas kapan tayangnya, menjadikan radio sebagai sarana menikmati 'siraman rohani filoSofi ritual' tetap menjadi pilihan utama.
Tahun 85-95 saat teknologi kaSet marak, telah membantu radio swasta lokal untuk menyiarkan pagelaran wayang golek secara rutin dengan kualitas suara yang baik, sehingga tidak tergantung lagi pada RRI yang kesulitan ditangkap dengan kualitas kreSek-kreseknya itu.
Kemunculan televisi-televisi swasta tahun 1990-an menumbuhkan harapan dapat menikmati wayang golek secara audio video.
Akan tetapi, sekali lagi ....... harapan tinggal harapan.
RRI Bogor dan Bandung biasanya Secara rutin menyiarkan wayang ini pada malam minggu semalam suntuk. KualitaS suara yang jelek disertai krasak-kresek, timbul tenggelam bahkan hampir tidak terdengar tidak jadi masalah. Yang penting saat gending ditalu, Sinden ngahaleuang rasa deudeuh pada tanah air Semakin mendalam.
Disaat pesawat televisi hitam putih terbeli dengan operator tunggal TVRI, harapan nonton wayang golek di layar kaca ternyata harapan tinggal harapan. Kemunculan wayang golek yang tidak jelas kapan tayangnya, menjadikan radio sebagai sarana menikmati 'siraman rohani filoSofi ritual' tetap menjadi pilihan utama.
Tahun 85-95 saat teknologi kaSet marak, telah membantu radio swasta lokal untuk menyiarkan pagelaran wayang golek secara rutin dengan kualitas suara yang baik, sehingga tidak tergantung lagi pada RRI yang kesulitan ditangkap dengan kualitas kreSek-kreseknya itu.
Kemunculan televisi-televisi swasta tahun 1990-an menumbuhkan harapan dapat menikmati wayang golek secara audio video.
Akan tetapi, sekali lagi ....... harapan tinggal harapan.
Langganan:
Postingan (Atom)
