Tampilkan postingan dengan label reformasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label reformasi. Tampilkan semua postingan

Prajurit Pro rakyat

Tahun 1998, demo setiap hari terjadi di kota Makassar. Ribuan mahaSiswa dengan berbagai jas almamater yang berwarna-warni memeriahkan jalan-jalan dari kampus-kampus ke tengah kota. Penulis karena masih mahasiswa tentu tidak mau ketinggalan berpadu dengan teman, sahabat dan rekan dari berbagai penjuru kota.
Disela-sela demo, penulis masih tak lupa menyempatkan diri berkumpul di jalan Dr. Soetomo untuk berlatih gamelan sebagai sarana mendinginkan kepala:))
Hari itu, demo sedang riuhnya. Beberapa sahabat perwira dari beberapa kesatuan di Makassar mampir, selain silaturahmi tentu juga sambil minum bajigur yang menyegarkan. Sudah beberapa malam mereka tidak tidur.
Saat berpamitan, ada periStiwa 'luar biasa' yang menakjubkan di depan penulis. Bertiga mereka mengeluarkan magazin (peluru) dari masing-masing senjata yang dibawanya.
"Daripada salah tembak atau tidak sengaja menembak rakyat tidak berdosa, lebih baik tak usah pakai peluru", ujarnya sambil unjuk salam.

Teladan Pak Dani Setiawan dan Pak Agum Gumelar

Pada masa Kampanye dan Pemilu Gubernur Jawa Barat tahun 2008, perilaku gentlemen, satria, dan fair play dipertunjukkan para kandidat.
Dani Setiawan yang didukung Partai Golkar dan Agum Gumelar dukungan PDI-P kalah dalam penghitungan Suara oleh pasangan muda Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf.
Dunia internasional dan nasional dapat melihat kematangan politik tokoh senior (Dani dan Agum) saat menerima kekalahannya. Tanpa arogansi senioritasnya, dengan legowo dan besar hati kedua kandidat yang kalah dapat menerima tanpa mencari kesalahan, marah-marah apalagi menghasut pengikutnya untuk berbuat anarkis.
Terimakasih pak Dani, pak Agum anda berdua telah memberikan teladan yang sangat berharga bagi kami......

Pak Agum yang baik

Agum Gumelar adalah salah seorang tokoh nasional yang meniti karir sebagai militer, dari Danjen Kopasus, Panglima Kodam Wirabuana SulaweSi Selatan serta pernah menjadi menteri dan ketua KONI.
Tentu pak Agum Gumelar tidak akan kenal penulis, walau selama menjabat di Sulawesi Selatan penulis menyaksikan sendiri kepiawaian beliau dalam mengendalikan kondisi panaS kota Makassar yang memang sudah panas.
Di masa jabatannya, kasus kerusuhan beraroma etnis antara etniS Makassar dan Tionghoa yang hampir membakar kota Makassar berhasil diredamnya.
Sebagai Pangdam, Agum Gumelar dekat dengan mahasiswa Makassar Sehingga pada masanya dilakukan seleksi bagi mahasiswa yang berminat menekuni olahraga dirgantara. Teman-teman dari organisasi mahasiswa pramuka, menwa, SAR ada yang berhasil lolos seleksi sehingga berkesempatan menjadi penerjun bebas/free fall dan terbang layang.
Penulis tidak ikut karena kurang tinggi he he he... juga lagi sibuk jadi wartawan boss:))
Pada masa gejolak reformasi, manuver Agum Gumelar mampu menjembatani keinginan rakyat dengan penguasa daerah dan pusat. Tidak terjadi pertumpahan darah atau penghilangan orang.
Karena penuliS tinggal dalam lingkungan kampus Universitas Hasanuddin dapat melihat satuan Kopasus bertindak simpatik terhadap aktifis demo sekalipun.
Dalam dua kali kesempatan, halal bihalal di rumah jabatan Kapolda Sulawesi Selatan dan perpisahan di akhir tugas pak Agum Gumelar, alhamdulilah penulis diberi kesempatan sebagai MC (Master of Ceremony).
Bravo Agum Gumelar...!!!

Reformasi = kuliah mahal

Tahun 1997 menjelang keberangkatan sebagai Tim Surveyour NGO Plan Internasional ke GalesOng Takalar, maka kami bersepuluh menikmati rehat di kantor.
Karena sahabat yang bersembilan semuanya dari FISIPOL (fakultaS Ilmu Sosial Politik) tentu menu perbincangan setiap saat adalah hal paling aktual yaitu tuntutan reformasi yang semakin memuncak.
Tadinya penuliS jadi pendengar yang setia saja karena hanya satu-satunya dari FKG.
Lama kelamaan karena perbincangan makin Seru, penulis ikut nimbrung. Yang akhirnya berujung pada dua kubu, Satu kubu pro reformaSi termasUk penulis, kubu lainnya menolak reformasi.
Mas Soesilo mengingatkan yang pro akan implikasi yang akan terjadi bila reformasi berhasil. Tentu kami yang pro reformasi pun mati-matian bertahan dengan segala argumen dan dalil yang kami punyai.
........next ... reformasi bergulir, kabinet demi kabinet berganti...
Apa yang Mas Soesilo ramalkan dan prediksikan terjadi, misal dalam biaya pendidikan tinggi yang luar biasa mahal.
Coba bandingkan : Tahun 1989 masuk Fakultas eksak PTN dikenakan uang maSuk 250.000 dengan uang semester 120.000. Sementara non eksak PTN, uang Semester 90.000 saja.
Tahun 2007 masuk Fakultas eksak PTN dikenakan uang maSuk 10-40 juta dengan uang semester 1,5 juta. Sementara non eksak PTN uang masuk 10 juta, uang semester 1 juta.
Mungkinkah kita bisa kuliah di PTN ternama bila uang masUknya saja 10-40 juta seperti sekarang ini?
........................
Trims, Mas telah mengingatkan kita

hari ini 650.000

Reformasi bergulir tahun 1998, kurs 1 dollar US bergerak naik dari yang bertengger di angka Rp. 2000 - Rp. 2.500, sekarang betah di posisi Rp. 9300-an. Bensin sebelum reformasi masih Rp. 500, naik angkutan bis PPD masih Rp. 150 sekarang sudah Rp. 3000.
Pendapatanku 2008? Rp. 650.000.
Terbagi untuk Rp. 300.000 PAM dan Telepon, bensin dan oli Rp. 40.000. Sisanya untuk survival.............
Hem hem hem hem!!!